Latest Blog Posts

Peran Pemerintah Kabupaten dalam Pemanfaatan Adat dan Tradisi di Kabupaten Banjarnegara dalam Mewujudkan Semangat Bali Ndeso Mbangun Deso

A. PENDAHULUAN
Sejak awal kegiatan pembangunan di Indonesia, pembangunan pedesaan baik di Jawa maupun diluar pulau Jawa telah banyak mendapat perhatian. Hal ini merupakan sebuah konsekwensi logis bagi bangsa Indonesia yang memang sebagian besar penduduknya hidup di daerah pedesaan yang mencapai 70 % dari keseluruhan penduduk di Indonesia. Sehingga titik sentral pembangunan adalah daerah pedesaan. Arti penting pembangunan pedesaan adalah bahwa dengan menempatkan desa sebagai sasaran pembangunan, usaha untuk mengurangi berbagai kesenjangan pendapatan, kesenjangan kaya dan miskin, kesenjangan desa dan kota akan dapat lebih diwujudkan.
Dalam pembangunan desa, hal yang perlu diketahui, dipahami dan diperhatikan adalah berbagai kekhususan yang ada dalam masyarakat pedesaan. Tanpa memperhatikan adanya kekhususan tersebut mungkin program pembangunan yang dilaksanakan tidak akan berjalan seperti yang diharapkan. Kekhususan pedesaan yang dimaksud antara lain adalah bahwa masyarakat desa relatif sangat kuat keterikatannya pada nilai-nilai lama seperti budaya / adat istiadat maupun tradisi. Nilai-nilai lama atau biasa disebut dengan budaya tradisional itu sendiri sangat dan selalu terkait dengan proses perubahan ekonomi, sosial dan politik dari masyarakat pada tempat di mana budaya tradisional tersebut melekat. Kita dapat menjumpai Adat dan Tradisi yang merupakan refleksi dari budaya, agama dan adat istiadat setempat yang diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat.
Beberapa aktifitas adat dan tradisi dimaksud antara lain bersih desa (kerigan), mayu (gotong royong memperbaiki rumah) , selapanan dll. Yang merupakan sebuah tatanan masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai kebersamaan. Dengan Adat Tradisi tersebut masyarakat memiliki sensitifitas terhadap penderitaan tetangganya, masyarakat memiliki rasa gotong royong membangun fasilitas kampung, masyarakat dengan sadar mau melakukan ronda demi keamanan bersama, masyarakat menyuguhkan senyuman bagi siapa saja yang melintas di depannya, masyarakat juga mau menjamu tetangga dengan masakannya dan masyarakat yang masih mau menjaga keseimbangan alam bagi kehidupan keseharian mereka.
Oleh karenanya peran Adat dan Tradisi dalam upaya mewujudkan semangat bali ndeso mbangun deso menjadi sangat penting, mengingat dalam pembangunan desa memerlukan kesadaran dan keswadayaan yang mereka miliki. Kesemua kegiatan pembangunan di lakukan sendiri oleh masyarakat baik dalam segi pembiayaan dan pelaksanaan dengan menggunakan kemampuan sendiri sesuai dengan batasan kemampuan yang dimilikinya tanpa harus ada intervensi bantuan dari pihak luar.

B. Peran Pemerintah dalam pemberdayaan Adat dan Tradisi.
Jika kita lihat kenyataan dalam perkembangan zaman teknologi yang berpangkal pada kehidupan modern, maka adat istiadat bangsa Indonesia ini akan menghadapi tantangan berupa pergeseran nilai. Tidak mustahil pergeseran nilai dapat mendangkalkan adat istiadat leluhur, terlebih pada generasi muda yang masih belum kuat dan belum mampu mengantisipasi kedatangan budaya asing yang serba modern yang mendasarkan pada kemampuan teknologi dan melupakan sumber nilai-nilai luhur yang mengakar pada adat istiadat kebudayaan bangsa kita. Kalau pergeseran nilai dibiarkan berlarut-larut, maka tidak mustahil adapt dan tradisi seperti Bersih Desa atau Mejemukan akan dilupakan dan bahkan tidak dikenal oleh generasi muda dan akhirnya akan hilang sama sekali. Kalau hal itu terjadi sangat disayangkan.
Lembaga adat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu hingga sekarang mempunyai fungsi dan berperan dalam membina nilainilai budaya, norma-norma adat dan aturan untuk mewujudkan keamanan, keharmonisasian, ketertiban, ketentraman, kerukunan dan kesejahteraan bagi masyarakat sebagai manifestasi untuk mewujudkan tujuan-tujuan bersama sesuai dengan keinginan dan kepentingan masyarakat setempat.
Untuk meningkatkan peran dan melestarikan lembaga adat, perlu dilakukan pembinaan dan pemberdayaan yang berkesinambungan terhadap lembaga-lembaga adat dimaksud sesuai dengan dinamika dan perkembangan masyarakat.
Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat, maka Pemerintah Kabupaten Banjarnegara akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak guna memantapkan kondisi sosial budaya yang berbasiskan kearifan local melalui upaya sebagai berikut :
1. Membentuk Kelompok Kerja Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat
2. Membentuk Satuan Tugas Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat pada tingkat Kecamatan dan Desa/ Kelurahan
3. Melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2002 dan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 49 Tahun 2009 tentang Pembentukan Kelompok Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat
4. Melakukaan koordinasi terpadu dalam Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat dengan program pemberdayaan masyarakat dengan prinsip transparansi, partisipatif, akuntable serta mencerminkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat.

Sebuah institusi lokal sebenarnya telah membuat dampak yang besar dalam lokalitas pembangunan daerah mereka sendiri. Organisasi-organisasi grass root semacam ini khususnya bertujuan untuk dapat membantu melakukan mobilisasi masyarakat atas dasar pemerataan pembagian kepentingan, dan memperkuat solidaritas mereka. Mereka berusaha untuk dapat meningkatkan kapasitas dengan menyediakan sebuah ruang lingkup dimana masyarakat dapat mendapatkan rasa harga diri yang baru, mereka juga tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan identitas kelompok yang lebih tinggi derajatnya, berbagai ketrampilan publik, nilai-nilai penting dari kerjasama (Evans dan Boyte dalam Sirigne: 2001). Lebih lanjut Colletta (dalam Suyanto:1996) mengatakan bahwa unsur kebudayaan merupakan media yang memungkinkan pembangunan berlangsung dengan sukses karena paling kurang tiga alasan sebagai berikut: (1) Unsur-unsur budaya mempunyai legitimasi tradisional dimata orang-orang yang menjadi sasaran program pembangunan. (2) Unsur-unsur budaya secara simbolis merupakan bentuk komunikasi yang paling berharga dari penduduk setempat, dan (3). Unsur-unsur budaya mempunyai aneka-ragam fungsi baik yang berwujud maupun yang terpendam, yang sering menjadikannya sebagai sarana paling berharga untuk perubahan dibandingkan dengan yang tampak dipermukaan jika hanya dilihat dalam kaitannya dengan fungsinya yang berwujud saja.
Pada kasus Lembaga Tahlil, dengan segala sifat tradisionalnya serta segala nilai-nilai yang ada padanya, ternyata mampu untuk menjadi sarana yang potensial bagi masyarakat dalam memperbaiki kesejahteraan hidupnya. Kesejahteraan itu sendiri diwujudkan lewat perbaikan sarana dan prasarana fisik yang memadai dan juga tempat tinggal yang memadai. Dengan demikian tingkat kesejahteraan yang diusahakan masyarakat desa ini barulah sampai pada tataran tersebut. Kesejahteraan itu sendiri sifatnya adalah relatif, artinya bahwa peningkatan kesejahteraan dalam kurun waktu tertentu akan berbeda kualitas dan coraknya di banding dengan peningkatan yang akan terjadi dikurun waktu yang lain. Bahkan tingkat kesejahteraan dari sesuatu masyarakat di wilayah tertentu, akan dapat berbeda dengan tingkat kesejahteraan masyarakat lain, diwilayah yang lain (Maskun: 1994).
Dengan demikian yang terpenting dalam pembangunan adalah keberhasilan yang dapat memberikan perbedaan keadaan yang dinilai lebih baik, sempurna, lebih sehat, lebih manusiawi dan sebagainya, dari sebelum dilakukan programprogram pembangunan atas sesuatu masyarakat. Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan terhadap fokus masalah yang ada dalam penelitian ini, maka selanjutnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
5. Program pembangunan hanya akan dapat berjalan jikalau masyarakat merasa ikut dilibatkan dalam pembangunan itu sendiri. Dalam hal ini, keterlibatan masyarakat tidak saja pada keikutsertaan dalam pekerjaan proyek pembangunan, tetapi lebih dari itu, yaitu keterlibatan/partisipsi secara totalitas.
6. Pemerintah menganggap dirinya lebih tahu dan faham akan kebutuhan rakyat, sehingga semua program pembangunan Pemerintahlah yang menentukan, akibatnya, ketika di implementasikan di masyarakat, ternyata program tersebut tidak selaras dengan kebutuhan masyarakat yang ada.
7. Tidak semua tradisi ataupun adat istiadat dan budaya yang berbau lokal dan tradisional akan menghambat pembangunan desa. Bisa jadi tradisi, adat istiadat serta budaya masyarakat yang ada justru sangat membantu dan mendukung terlaksananya pembangunan desa.
8. Kurangnya pemerintah memanfaatkan institusiinstitusi lokal semisal Lembaga Tahlil yang banyak tumbuh di dalam masyarakat desa sebagai lembaga tingkat grassroot bagi pembangunan desa, akibatnya pemerintah sangat kesulitan dalam membaca keinginan dan kemauan rakyat.
9.
Provinsi Jawa Tengah kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat potensial untuk dikembangkan. Namun demikian, sumber daya tersebut belum sepenuhnya dikelola dan dikembangkan dengan maksimal, sehingga belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara optimal. Kondisi tersebut antara lain terlihat dari masih banyaknya penduduk miskin, pengangguran dan penyandang masalah kesejahteraan sosial. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat maka Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencanangkan gerakan Bali Ndeso Mbagun Deso yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi yang ada di wilayah pedesaan, baik dari sisi
sumber daya alam, sumberdaya manusia, sosial kemasyarakatan, keluhuran budaya serta kearifan lokal. Misi program Bali Ndeso Mbangun Deso yaitu terwujudnya masyarakat Jawa Tengah Yang semakin Sejahtera. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menetapkan Gerakan Bali Ndeso Mbangun Deso yang diarahkan untuk :

1. Menitikberatkan orientasi pembangunan ke pedesaan yang bersifat menyeluruh, terkait dengan pengembangan sumberdaya manusia, alam, lingkungan, sosial, politik dan kewilayahan.

2. Mendorong segenap potensi masyarakat Jawa Tengah yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, teknologi informasi untuk ditularkan kepada masyarakat pedesaan. Demikian pula bagi mereka yang memiliki kekayaan atau modal yang besar dapat memberikan bantuan modal usaha atau bertindak sebagai bapak angkat guna melindungi, memasarkan dan mengembangkan usaha produktif yang dilakukan masyarakat pedesaan. Implementasi gerakan Bali Ndeso Mbangun Deso ditujukan untuk mencapai visi pembangunan Jawa Tengah tahun 2008-2013 yaitu : Terwujudnya masyarakat Jawa Tengah yang semakin sejahtera, yang ditempuh melalui 6 (enam) misi yaitu :

1. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan profesional serta sikap responsif aparatur;
2. Pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian dengan Sapta Usaha Tani, pemberdayaan UMKM dan industri padat karya;
3. Memantapkan kondisi sosial budaya yang berbasiskan kearifan lokal;
4. Pengembangan sumberdaya manusia berbasis kompetensi secara berkelanjutan;
5. Peningkatan perwujudan pembangunan fisik dan infrastruktur;
6. Mewujudkan kondisi aman dan rasa aman dalam kehidupan masyarakat.

PROGRAM KEGIATAN DIFEST 2011

Dalam rangka mensukseskan Visit Jateng 2011, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTDD) Pengelola Obyek Wisata Dataran Kabupaten Banjarnegara akan menyelenggarakan Event Dieng Festival (DIFEST) 2011. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan ke Jawa Tengah. Berbagai atraksi menarik akan digelar di Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng, antara lain :

1. Lomba Foto Sunrise Dieng

2. Pameran Ekowisata dan Agrowisata

3. Jelajah Wisata

4. Kemah Budaya dan Purbakala

5. Dieng Off Road

6. Lomba Balap Sepeda MTB

7. Upacara Adat Ruwatan Rambut Gembel

8. Lomba Memancing di Telaga Merdada

9. Lomba Melempar Batu di Sumur Jalatunda

10. Festival Kesenian Tradisional

PARIWISATA BANJARNEGARA MENGHADAPI VISIT JATENG 2011

Peran Banjarnegara dalam Pariwisata Jateng

Launching Visit Jateng 2011 direncanakan pada minggu I Bulan Agustus 2010 bersamaan dengan peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah ke 60. Sebagai salah satu Kabupaten yang memiliki cukup banyak tujuan wisata, Banjarnegara akan berpartisipasi dalam bentuk Parade Budaya Jawa Tengah dengan menampilkan Kesenian Tradisional sekaligus mempromosikan kesiapan Destinasi Pariwisata Kabupaten Banjarnegara menyambut Visit Jateng 2011.
Disamping itu, mengawali rangkaian Visit Jateng 2011, Kabupaten Banjarnegara akan mengadakan Event Kejuaraan Arung Jeram Internasional pada bulan April 2010 bekerjasama dengan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI). Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu Agenda Pra Visit Jateng 2011. Setidaknya   sepuluh Negara yang sudah memastikan akan mengirimkan kontingenya untuk mengikuti kejuaraan yang akan dilangsungkan di Sungai Serayu.
Terkait dengan himbauan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah agar Penyusunan Rencana Kegiatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten/ Kota untuk Tahun 2011 disinergikan dengan Visit Jateng 2011, Kabupaten Banjanegara juga akan menggelar Event Strategis yang dapat mendatangkan wisatawan ke Kabupaten Banjarnegara dan Jawa Tengah tentunya, yaitu Dieng Festival 2011 (DIFEST) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan tak kalah serunya adalah Serulingmas Tourism Fair, berupa penyelenggaraan Pameran Produk Pariwisata dari Kabupaten/ Kota se Barlingmascakeb dan Bakorwil III di Lokasi Wisata TRMS Serulingmas Banjarnegara.
Sejalan dengan Review Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 14 Tahun 2004 tentang RIPK Jawa Tengah, diharapkan Kawasan Wisata Dieng ditingkatkan statusnya dari Kawasan Andalan menjadi Kawasan Unggulan, sedangkan TRMS Serulingmas ditingkatkan dari Kawasan Potensial menjadi Kawasan Andalan. Hal tersebut tentunya perlu didukung dengan kebijakan Provinsi Jawa Tengah dengan membuka aksesibilitas jalan dari Tol Pantura menuju Dieng melalui Kabupaten Batang, sebagai pintu masuk ke Kawasan Wisata Dieng . Dan bila memungkinkan TRMS Serulingmas juga dijadikan Destinasi Pariwisata Jawa Tengah sebagai Taman Pintar Flora dan Fauna Jawa Tengah.

DEVELOPMENT PROGRAM SIBIRA

THE DEVELOPMENT PROGRAM
OF TOURISM OBJECT IN SIBIRA

By Gotink

A. BACKGROUND
1. The majority of international travelers are interested in nature based tourism and cultural based tourism.      One of them is Dieng Plateau which in an excellent destination for domestic and foreign tourist, beside      Jogjakarta and Borobudur. Dieng Plateau has many attractions, such as Arjuna Temples, Sikidang
crater, Lake Merdada, Sileri crater, Candradimuka crater and Jalatunda well. In the future, to attract
many tourist coming to visit Dieng plateau it needs to be developed by providing new tourism areas.

2. Sibira is a region in the tourist destination of Dieng plateau, It is derived from three places named Sileri,
Bitingan and Si Rawe. In the future, Sibira can be developed as a choice destination for domestic and
international tourist in Dieng plateau.

3. Then to keep sustainability for development program in Sibira, the except to build facilities and
infrastructure for it needs the implementation of community based tourism (CBT). There were some
experiences in activity for development tourism places, there is got some failure, because of the un
mature planning, actuating and managing is not involved to participant local community.

B. OBJECTIVES
1.To explain the conditions of Sibira

2. To explain the important reasons of community based tourism approach for developing the
tourism object    of Sibira.

3. To offer some solution to the implementation development by involving Stakeholders.

C. DISCRIPTION OF SIBIRA

1. LOCATION OF THE SIBIRA

Sibira is a region on the tourist destination of Dieng plateau, it is located not far from Arjuna Temples, from this area is more or less three kilometers to the west, exactly in Kepakisan village Batur of Banjarnegara regency.
Sibira is derived from three places name is Sileri, Bitingan and Sirawe. The Sileri is a width crater with white smokes, Bitingan is hot water spring, and Si Rawe is a beautiful waterfall.
Sibira has many potential powers of tourist attraction which are not yet touched. This areas offers beautiful places for tourist adventures. Besides, Sibira has an opportunity to be developed of a tourist village

2. NATURAL CONDITION OF SIBIRA

Sibira is heaven for tourism in Dieng plateau, because Sibira has many potential power of tourist attraction. This areas offers beautiful places for tourist adventures. For the hobbies of enjoying the nature journey, they can do adventures-tracking to the Sipandu Mountains. All along the road from Sileri crater to Sirawe at follow the crooked path between green-hill on the return and left.
Besides, Sibira has many beautiful views, and from the highland of it, we can see the sunset and landscape of Dieng plateau.

3. COMMUNITY CONDITION OF SIBIRA AROUND

The life style of some people at Sibira around, the majority is engages in farming. The cultivate their farmlands to plant potatoes and grow some kinds of vegetables. Then on their farmyards, the people make use of plants or breed domesticated animals such as Australian rabbits, chickens and sheep.

D. PROBLEMS RELATED

The people and the Head Kepakisan Village with public sectors support services, which make Sibira a tourist destination. The problems related to the development at Sibira are 1) Limited facilities and infrastructure 2) Low awareness the society to tourism industry 3) and un involvement Stakeholders in tourism of industry.

1. LACK OF FACILITIES AND INFRASTRUCTURE

To build Sibira as tourist area sustainable to visit, we are still facing some obstacles. Less infrastructure. As lack of paved from Sileri to Sirawe, are a prominent problem for developing this area. Besides Siberia should be completed with building facilities for communications, home stay, restaurants, hot spring water bathing place, landscape and some others for the sake of travelers. The most important thing of this program is to simulate participation from local community’s in planning, actuating and management tourism. This activity will from synergy between public sector support services and private sector support services.

2. LOW AWARENNES OF THE SOCIETY TO THE TOURISM INDUSTRY

To develop Sibira as a tourist destination area is not only by building facilities and general infrastructure, but it is following with participant from local community.
Several problems human resources to handle the development in Sibira include no trust of the community on the tourism industry.

3. STAKEHOLDERS HAVE NOT YET INVOLVED IN TOURISM INDUSTRY
Causal factor the failure to development a tourist area, usually the stakeholders have not yet
involved.

E. SOLUTION
1. PREPARE TOURISM FACILITIES

The lack of facilities and infrastructure in Sibira influence the effort to increase visiting to this area. Then in the future, when Sibira has been to completed with resort places, home stay, restaurant, bath hot water spring and general facilities, Dieng plateau is not be to One day tour only, because tourist can stay longer there.
To develop Sibira resort for an exclusive tourism area, we need a master plan to make sustainable tourism. The master plan contains the blue print and general description of tourist.

2. IMPROVING COMMUNITY RESOURSES

To promise sustainability for development programs in Sibira. We need the implementation of community based tourism (CBT). There were some experiences in activity for development tourism places, there is got some failure, because of the un mature planning, actuating and management, which are not involved to participant local community. CBT is an alternative tourism development of local community as well as the conservation of natural resources that provide the basis of community livelihood.
Activity of CBT to apply agent of change. Their jobs are as a self directed strategy to integrate the goals of tourism development, they play active roles in :

a. Supporting community-level efforts to protect and manage local natural resources
b. Supporting community-level efforts to do provide sector support services in tourism
industry,      Prepare all tourist needs among others home stay, coffee shop, nursery etc.
c. To promote the value of local wisdom and ways of life
d. Leading role to bridge between the private sector support services and public sector
support     services,

3. IMPROVING THE ROLES OF STAKEHOLDERS TOURISM INDUSTRY

When we make sustainability of tourism, it I s needed stakeholders tourism industry, there is Host community, Government Bodies, Tourism industry, Pressure Groups, Media, Expert and Voluntary sectors.The Stakeholders have some jobs in the structure of the tourism industry in the development in Sibira :

a. Host community, responsible to private sector support service to prepare al tourists needs
among    others home stays, coffee shop, nursery and other services tourism.
b. Government Bodies, to make rule and regulation related to tourism industry, beside
responsible for public education and training establishment.
c. Tourism industry, responsible for guiding services, accommodation and transportation
d. Pressure Groups, responsible for private education and training establishment.
e. Media, responsible to promotion
f. Expert . responsible for making landscape and physical plan.
g. Voluntary sectors. Responsible for bridging between the private sector support services
and public   sector support services.

F. CONCLUSION

To make Sibira a tourist destination to overcome this problem of related to the development we have :

1. To complete gradually the facilities and infrastructure

2. To increase awareness the society to the tourism industry

3. To involved of stakeholders in tourism industry